Minggu, 25 September 2011

Dari ku

Terkadang apa yang kita harapkan tak sesuai dengan semua kenyataan yang akan kita terima.
Menjalani semua yang kita hadapi adalah wujud dari kesadaran kita bahwa semua ini kehendak Tuhan yang lebih baik untuk kita jalani.
Memaksakan semua keinginan demi apa yang kita anggap sempurnakan hidup kita adalah wajar, karena semua alam ini mengandung misteri dan selalu ada rahasia yang akan kita ketahui nanti setelah semua terungkap.
Jalani saja apa yang ada dihadapanmu. Bukan pasrah akan semua yang kita miliki, namun jika kita sadar siapa diri kita, semua ini tak ada artinya lagi.

Jumat, 05 Agustus 2011

EMPTY NEST SYNDROME PADAWANITA USIA DEWASA MADYA


Banyak orang tua beranggapan, tugas mereka sebagai orang tua berakhir sesaat setelah anak-anak pergi meninggalkan rumah, untuk menjalani kehidupan mereka masing-masing. Anggapan ini membuat banyak orang tua yang menjadi stres ketika masa itu hampir tiba. Akibatnya, masa tua menjadi masa yang “tampaknya” tidak menyenangkan, terutama bagi para ibu, yang merasa kehilangan arti atau makna hidup setelah selama sepuluh tahun, dirinya memiliki peran sentral dalam kehidupan anak-anak.
Dalam hal ini Roading & Santrock (1991:277) menjelaskan bahwa kondisi semacam itu akan datang dalam kehidupan pasangan ketika anak-anak mereka menjadi mandiri dan mulai bisa mencari kebutuhannya sendiri dan mereka telah lepas dari keluarga/orangtua. Ketika anak yang mulai dewasa mulai meninggalkan rumah, beberapa orangtua mengalami perasaan kehilangan yang mendalam atau beberapa orangtua tersebut akan mengalami “empty nest syndrome”.
Empty nest syndrome pada usia madya adalah sindrome yang terjadi pada usia dewasa madya karena anak-anak telah dewasa dan mandiri meninggalkan rumah untuk bekerja, menikah, merantau atau kuliah. Seperti dijelaskan oleh Herati (2000: 2) bahwa empty nest syndrome atau syndrome sarang kosong adalah rasa kosong yang biasa terjadi ketika anak-anak sudah mulai keluar rumah dan seorang ibu merasa tidak terlalu dibutuhkan lagi oleh keluarganya.
Fase empty nest pada usia dewasa madya tidak selamanya menyebabkan seseorang mengalami sindrome, tetapi fase empty nest bisa dianggap sebagai suatu keberhasilan dalam menjalankan tugas-tugas sebagai orangtua. Hal ini didukung oleh Feldman (1989:363) menyatakan bahwa untuk beberapa orang, empty nest dapat diterima karena pasangan mendapatkan kembali kebebasan mereka. Bagi
yang lainnya, bagaimanapun masa ini tidak terlalu membahagiakan. Bagi yang hidup berpusat pada keluarga, kepergian anak-anak bisa jadi merupakan hasil dari tugas mereka dalam mengurus anak-anak telah selesai.
Tidak heran jika bagi orangtua yang “tidak memiliki” kesibukan di usia madyanya, maka “empty nest syndrome” ini menjadi suatu gangguan yang mengakibatkan mereka mengalami kekosongan. Misalkan saja seperti diceritakan oleh Ny. Farida Djoko Sanyoto bahwa “Ny Farida di rumahnya hanya tinggal bersama suami dan satu anaknya yang sudah bekerja, dan saati itu juga dia merasa rumahnya mulai kosong, rumah terasa kosong setekah anak-anak semakin jarang berada dirumah, dan Ny Farida mengakui bahwa saat itu dia mengalami
kekosongan dalam rumah tangganya, namun karena dia mendapat dukungan dari anak dan suaminya untuk melanjutkan kuliahnya pada Program Pasca Sarjana  Kajian Wanita di Universitas Indonesia, maka sejak itu, Ny. Farida memiliki kesibukan lain sehingga kekosongan yang pernah dialaminya waktu itu agak berkurang” (Kompas, Minggu, 13 Agustus 2000).
Sementara Duberman 1974 (dalam Feldman, 1989: 363) menyatakan bahwa ada yang mungkin untuk menjadi perubahan yang besar dalam kualitas pernikahan hanya karena anak-anak telah dewasa. Pernikahan yang memuaskan adalah ketika anak-anak masih di rumah, di mana ketidakpuasan pernikahan ditimbulkan karena adanya permasalahan lain dalam pernikahan yang berkelanjutan.
Hal tersebut juga dipertegas oleh Bassoff (dalam Santrock, 2002: 162), bahwa sebuah peristiwa penting dalam keluarga adalah beranjaknya seorang anak ke dalam kehidupan dewasa, karir atau keluarga yang terlepas dari keluarga tempat dia berasal. Orang tua menghadapi penyesuaian baru karena ketidakseimbangan akibat ketidakadaan anak.
Selanjutnya Santrock (2002:162) menjelaskan bahwa: “Sindrom sarang kosong (empty nest syndrome) menyatakan bahwa kepuasan pernikahan akan mengalami penurunan karena orang tua memperoleh banyak kepuasan dari anak-anaknya, dan oleh karena itu, kepergian anak dari keluarga akan meninggalkan orang tua dengan perasaan kosong. Meskipun sindrom sarang kosong tersebut berlaku bagi beberapa orang tua yang hidup melalui anak-anaknya, sarang yang kosong tersebut biasanya tidak menurunkan kepuasan pernikahan. Melainkan, sebaliknya yang terjadi, kepuasan pernikahan meningkat pada tahun-tahun pasca membesarkan anak “.
Kasus di atas, menurut Persitarini (dalam kliping Bidang Psikologi, Tahun III no. 4 1999 : 106 dari perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta) banyak dirasakan oleh orangtua ketika anak-anaknya berkembang dewasa dan kemudian mereka keluar dari rumah, entah untuk sekolah maupun karena telah berkeluarga, dalam perkembangannya ternyata bisa terjadi pada siapa saja,
termasuk anak-anak”.
Lilian (dalam Kompas, Minggu13 Agustus 2000) dalam penelitiannya terhadap perempuan Amerika menemukan, perempuan yang hanya melakukan tugas tradisionalnya secara eksklusif di rumah dan tidak memiliki kegiatan lain di luar rumah, menderita sindroma lebih parah, bahkan sampai ketingkat depresi karena “rasa tidak dibutuhkan lagi” yang sedemikian pekat. Pada perempuan yang memiliki kegiatan lain diluar rumah, sindroma itu menjadi lebih cair.
Penelitian terdahulu dibuat pada tahun 1980 oleh Antonucci, Tamir dan Dubnoff (dalam Rini, 2004:1), menyebutkan bahwa pada usia antara 30 sampai 40-an tahun, terlihat adanya peningkatan stres dan depresi diantara para wanita, justru ketika anak-anak masih di rumah. Pada saat empty nest tiba, stres, depresi, kecemasan, dan kekhawatiran malah berkurang dan pada umumnya terjadi peningkatan material satisfaction. Ketika para responden itu dihadapkan pada pertanyaan tentang masa transisi itu, mereka cenderung memberi jawaban bahwakepergian anak (untuk menjadi mandiri), justru merupakan masa transisi yang positif dari pada negatif. Mengapa demikian? Karena para responden memiliki kesempatan dan peluang untuk kembali bekerja, kembali menekuni hobi, kembali aktif dalam organisasi, atau bahkan ada yang kembali ke sekolah (dalam Rini,2004:1).
Penelitian yang dilakukan oleh De Vries (dalam Rini, 2004:1) memperlihatkan bahwa, kegagalan anak-anak untuk menghadapi dan mengatasi
masa transisi mereka sendiri (untuk berhasil mandiri dan dewasa), turut menjadi faktor yang menentukan kepuasan dan kebahagiaan orang tua di dalam menjalani kesendirian pada masa paruh baya ini. Kegagalan anak untuk mandiri, membuat para i bu dan orang tua merasa gagal dalam peranannya sebagai orang tua, merasa bersalah, merasa bertanggung jawab dan enggan untuk merealisasikan rencana
ataupun keinginan yang dibuat sebelumnya ketika pada masa paruh baya ini muncul gejala-gejala yang bisa memicu timbulnya syndrome empty nest yang pada akhirnya dapat menjadi pemicu stres atau depresi bagi para orang tua tersebut. Begitu juga sebaliknya, mereka malah menganggap bahwa pada masa ini merupakan masa yang menyenangkan atau berdampak positif bagi mereka karena
mereka merasa telah berkurang stresor atau tekanan yang muncul ketika orang tua dan anak masih tinggal satu rumah dan justru pada masa itu mendatangkan manfaat lain, bisa menentukan kepuasan dan kebahagiaan orang tua dalam menjalani fase usia dewasa madya ini.
Hal tersebut juga dikuatkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Australian Psychological Society yang menyarankan kepada orang tua agar tidak berlebihan dalam menghadapi empty nest syndrome (APS, 2004:1) Dari hasil penelitian tersebut juga diketahui bahwa orang tua yang mengalami empty nest syndrome seringkali mengalami kesulitan dan perasaan tidak mengenakan setelah anak-anak mereka keluar dari rumah. Penderitaan tersebut menjadi suatu lembaran hidup yang seharusnya mereka lupakan untuk hidup menyenangkan menjelang masa menopause, masa pensiun dan sebagainya. Menurut Natalie dijelaskan bahwa cara mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mencari kesibukan seperti rekreasi, shoping, bekerja sehingga menemukan kembali makna kehidupan dan terhindar dari empty nest syndrome yang berlebihan (Natalie, 2004:1).
Peneliti tertarik mengungkap permasalahan empty nest syndrome karena peneliti ingin mengetahui masalah ini lebih jelas karena sindroma ini merupakan permasalahan yang rentan terjadi pada usia dewasa madya. Sindrome ini cenderung diabaikan padahal masalah ini akan menyebabkan gangguan emosional jika tidak diselesaikan dan akan mengganggu seseorang melewati tugas-tugas perkembangan pada masa usia dewasa madya menuju tahap perkembangan selanjutnya. Berdasarkan permasalahan yang telah diuraiakan di atas tersebut,
peneliti tertarik untuk menindaklanjutinya ke dalam bentuk penelitian dalam judul “Empty Nest Syndrome pada Wanita Usia Dewasa Madya”.

Empty Nest Syndrome

Bassof (Santrock, 1995) mengemukakan bahwa salah satu peristiwa penting dalam keluarga adalah beranjaknya seorang anak dalam kehidupan dewasa, karir atau membentuk keluarga baru yang terlepas dari keluarga tempatnya berasal. Wiryasaputra (2007) mengemukakan bahwa hal ini merupakan waktu yang tepat bagi anak untuk pergi keluar meninggalkan rumah, sekaligus waktu yang tepat juga bagi orangtua untuk melepaskan anak.
Tahap ini memang rasanya berat, baik bagi anak maupun orangtua karena dapat menimbulkan kecemasan, kehilangan, dan kesedihan. Banyak orangtua dan anak menolak untuk berubah karena tidak ingin kehilangan dan sedih. Lebih baik memelihara keseimbangan yang sudah ada dan tidak ingin menyesuaikan diri serta menciptakan keseimbangan baru, sehingga anak kadang kurang berani mengambil keputusan untuk pergi. Kadang, ada juga orangtua kurang tega dengan berbagai alasan. Memang, kedua belah pihak harus belajar bahwa pergi dan membiarkan pergi itu, bukan akhir dari segala-galanya. Sistem keluarga harus membuka diri, menjangkau dunia luar, sampai daerah yang tidak terbatas jaraknya, sehingga orang tua menghadapi penyesuaian baru karena ketidakseimbangan akibat ketiadaan anak.
Sindrom Sarang Kosong (Empty-nest Syndrome)
Sarang Kosong atau Empty-nest Syndrome (Webber dan Delvin, 2005) adalah kondisi psikologi yang dialami oleh orang tua (terutama oleh para ibu) ketika mereka mulai beranjak dewasa dan meninggalkan rumah. Hal ini dapat disebabkan karena anak tersebut telah memasuki usia kuliah ataupun anak tersebut telah menikah.
Kebanyakan orang tua harus menyadari bahwa merupakan hal normal untuk merasa sedih ketika mereka sedang mempersiapkan anaknya untuk memasuki bangku kuliah dan meninggalkan rumah. Merupakan hal yang normal pula untuk menangis ketika orang tua tidak lagi dapat mengatur anak, atau berharap anak dapat membuat keputusan yang baik dan benar di dunia luar. Hal ini juga normal jika ingin menghabiskan waktunya di kamar anak, agar orang tua tersebut merasa lebih dekat dengan sang anak (Clark, 2007). Bagi para orang tua, sebaiknya jangan malu dengan hal tersebut, karena hal itu adalah wajar-wajar saja. Namun jika orang tua merasa tidak berguna lagi, menangis secara berlebihan, merasa sangat bersedih hingga tidak ingin berkumpul dengan para sahabat atau pergi bekerja, maka orang tersebut sebaiknya meminta bantuan profesional, terutama jika simptom-simptom tersebut berlangsung lebih dari seminggu (Webber & Delvin, 2005).
Para orang tua terkadang tidak menyadari bahwa ketika anak mereka meninggalkan rumah, banyak keuntungan yang dapat mereka peroleh. Hal ini merupakan suatu kesempatan yang baik untuk memulai hobi baru atau kegiatan lain untuk membantu orang tua menghabiskan waktu. Orang tua juga dapat memulai sebuah pekerjaan baru atau dapat memulai suatu perjalanan (liburan). Ketika orang tua mengabaikan kenyataan bahwa anak mereka tidak lagi berada di rumah, maka mereka dapat menikmati hal-hal baru yang tidak mereka peroleh ketika masih menjaga anak ataupun merawat anak (Clark, 2007).
Transisi menjadi orang tua dari anak yang berusia remaja dan anak yang telah dewasa merupakan salah satu hal yang sulit. Disamping untuk tetap fokus pada peran yang mereka mainkan dalam kehidupan anak, orang tua juga harus tetap fokus pada kehidupan mereka. Witmer (2007) mengemukakan beberapa cara mencegah sekaligus mengatasi sindrom sarang kosong, yaitu sebagai berikut:
Mengerjakan sesuatu
Melakukan kerja sosial, mengikuti sebuah kelas, menemukan sebuah hobi baru atau melakukan apa saja pada waktu luang secara teratur dapat menghindarkan para orang tua dari rutinitas yang membosankan.
Berlibur
Para orang tua dapat melakukan suatu perjalanan (liburan) bersama pasangannya, membicarakan masa depan, serta membuat rencana. Hal ini dapat disebut sebagai bulan madu kedua, dimana mereka dapat memulai bagian kedua dari hubungan mereka.
Membuat paket yang berguna
Para orang tua juga dapat melakukan hal-hal yang dapat membantu anak mereka, misalnya saja membelikan bahan makanan atau pelengkapan mandi untuk tempat tinggal anak yang baru. Selain menambah kesibukan, hal ini juga dapat membuat anak senang dan tetap menjaga hubungan antara orang tua-anak.
Memberi selamat pada diri sendiri
Meskipun pekerjaan sebagai orang tua tidak akan pernah selesai, namun paling tidak mereka telah menyelesaikan salah satu tugasnya sebagai orang tua. Mereka telah berhasil membesarkan anak, dimana hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Para orang tua sebaiknya memberikan applause terhadap apa yang telah mereka lakukan sebagai penyemangat dalam hidup mereka.
Memperoleh dukungan
Jika mereka mengalami masa yang sulit dan mengalami depresi, sebaiknya segera meminta bantuan (memperoleh dukungan) dari pasangannya, saudara, sahabat (yang mengalami masalah yang sama) ataupun dari psikolog.

Sindrom Sarang Kosong

Ada berita bagus untuk para ibu yang berharap dapat mengatasi sindrom empty nest atau sarang yang kosong—ada burung kecil yang datang dan mengatakan pada kita bahwa sindrom itu akan segera berlalu, kok!
Para ibu selalu mulai merasa paranoid saat sarang atau rumah mereka mulai terasa sepi saat anak terakhirnya tinggal di luar kota untuk kuliah, atau meninggalkan rumah karena menikah. Perasaan kehilangan yang amat sangat dan keheningan di rumah bisa membuat mereka gila. Tetapi tenang saja, perasaan-perasaan itu akan menghilang dengan cepat.
Begini skenarionya: Pada awalnya, Anda sedang berusaha mengatasi kepedihan Anda karena anak-anak mulai mandiri. Mungkin menonton acara favorit Anda dan anak-anak sendirian bisa membuat Anda sedih. Atau mungkin berkurangnya pakaian kotor yang harus dicuci atau kamar-kamar yang perlu dirapikan memuat Anda sangat merindukan mereka. Anda menghabiskan pulsa telepon Anda menelepon dan mengirim SMS pada mereka, yang akhirnya membuat mereka jengkel dan berkata, “Ma, aku baik-baik saja!”
Tapi satu-dua bulan kemudian, Anda tiba-tiba menyadari beberapa kenyataan yang menyenangkan: Anda dan suami Anda mulai lebih sering pergi berkencan, mengadakan acara kumpul dengan teman-teman, atau merencanakan liburan pendek ke luar kota atau luar negeri. Anda juga dapat mengikuti kursus-kursus yang dulu tidak pernah bisa diikuti—karena tak ada waktu dan kesempatan, berlama-lama melakukan hobi Anda, dan sejujurnya: menikmati hidup tanpa anak-anak di rumah Anda.
Penelitian yang dipaparkan The O Magazine me-nunjukkan bahwa banyak ibu yang menyadari bahwa sindrom empty nest ternyata tidak benar-benar merusak. Dewasa ini, deskripsi klasik dari depresi yang tak mau pergi, apati, dan kehilangan identitas (“Siapakah saya jika saya tidak lagi bisa mengurus anak-anak?”) tidak lagi relevan. Menurut Christine M. Proulx, PhD, profesor di University of Missouri, ibu-ibu kita terlalu banyak membicarakan kesenangan dan kebanggaan saat mengawasi anak-anak mereka melewati transisi tersebut, dan mereka merasa senang melihat hasil didikan dan asuhan mereka pada si buah hati. Akhirnya, para ibu, sama seperti para ayah, merasa kepergian anak-anak untuk meninggalkan rumah tidak terlalu memberatkan.
Beberapa alasan untuk fenomena ini adalah meningkatnya angka wanita yang bekerja serta kecanggihan teknologi komunikasi seperti ponsel, smartphone, dan komputer. Jika dulu saat Anda bersekolah di luar kota, Anda perlu menjadwalkan suatu waktu khusus dalam satu hari tertentu untuk menerima telepon dari orang tua Anda ke asrama atau tempat kos. Sekarang, Anda bisa chatting dengan Yahoo Messenger atau Skype dengan anak Anda saat ia baru saja menghadiri kelas di Sidney, Australia.
Sebenarnya, sindrom empty nest bukan hanya bisa diatasi, sindrom tersebut ter-nyata malah berguna. Menurut Sara Gorchoff, PhD, peneliti S3 pada Uni-versity of California Berkeley, ada per-ubahan ritme pernikahan yang tercatat pada 123 orang wanita dari usia 40-60 tahun: mereka mengakui bahwa ke-pergian anak-anak membuat mereka lebih puas atas hubungan mereka dengan pasangan. Yang mempengaruhi antara lain adalah tersedianya cukup banyak waktu untuk Anda dan pasangan, serta apa saja yang Anda berdua lakukan untuk mengisi waktu tersebut. Jika dulu hari Minggu pagi mesti dihabiskan untuk mengajak anak-anak ke mall untuk membeli keperluan mereka, sekarang Anda dan pasangan bisa jalan-jalan, nonton, dan rekreasi. Kalau dulu malam hari adalah waktu makan bersama keluarga, sekarang Anda bisa mengatur makan malam intim berdua, lengkap dengan lilin-lilin dan segelas sampanye.
Tentu saja, melewati perubahan dari rumah yang ramai canda-tawa anak-anak menjadi rumah yang sepi terasa tidak menyenangkan untuk semua orang tua. Untuk single parent, hal itu bahkan bisa memburuk, apalagi saat malam hari mereka cenderung sendirian dan kesepian. Menurut Carin Rubenstein, PhD, penulis Beyond Mommy Years: How to Live Happily Ever After... After the Kids Leave Home, pada 10% wanita, sindrom empty nest bisa jadi masalah jangka panjang dan berbuntut pada depresi.
Bagi para ibu yang sudah mulai merasa stres, cobalah mengambil satu-dua lang-kah mundur dan menarik napas. Ber-hentilah mengantisipasi, merencanakan, dan menduga-duga seperti apa hidup Anda nantinya setelah anak-anak tidak tinggal di rumah lagi. Jangan takut pada perubahan ini, karena satu tahap dalam hidup ini seharusnya jadi tahap yang paling Anda nanti-nantikan, karena inilah saat Anda bisa mempunyai ‘me-time’ yang tak ada habisnya.
Anda bisa bergabung dengan kursus-kursus, melakukan kerja sosial, mem-perdalam religiusme Anda, memperbarui persahabatan, dan melakukan segala macam hal yang belum sempat Anda lakukan. Cobalah mengikat diri dengan peran lain dan cara hidup yang berbeda, dan Anda akan menemukan kepercayaan diri dan keindahan hidup yang mekar bersamaan dengan kebebasan ini.

Sindrom sarang Kosong

a.    Pengertian
Istilah Empty Nest Syndrome, secara harfiah dapat diartikan sindroma sarang kosong (empty = kosong, nest = sarang ). Sindroma ini adalah suatu keadaan yang menimpa kaum ibu pada saat anaknya meninggalkan rumah karena belajar di kota lain atau ke luar negeri. Juga dapat terjadi ketika anaknya menikah dan tidak tinggal serumah lagi. Keadaan ini menyebabkan ada perasaan tidak diperlukan lagi peranan sebagai ibu seperti waktu sebelumnya (Dewi, 2007).
Sindrom sarang kosong mengacu pada kesedihan yang banyak terjadi pada orang tua ketika anak-anak mereka tidak tinggal lagi bersama dalam satu rumah. Kondisi ini secara khas terjadi pada wanita.  Sindrom sarang kosong berbeda dengan kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai. Kesedihan pada sindrom sarang kosong sering tidak dikenali, sebab seorang anak orang dewasa pindah dari rumah dilihat sebagai peristiwa yang normal (Betterhealth, 2006).
Sindrom sarang kosong adalah suatu istilah yang menggambarkan kondisi psikologi dan emosi yang dialami wanita dalam suatu waktu karena ditinggalkan oleh anak-anaknya atau karena anaknya menikah (Marjorie, 2007). 
Sindrom sarang kosong mengacu pada merasa tekanan, kesedihan, dan atau duka cita yang dialami oleh orang tua setelah anak-anaknya meninggalkan rumah setelah dewasa atau berumah tangga. Hal ini dapat terjadi ketika anak-anaknya pergi karena kuliah atau menikah (Cushman, 2005).  
b.   Penyebab
Empty Nest Syndrome (ENS) muncul sebagai gejala yang banyak melanda kaum ibu, terutama di negara barat, yang hubungan kekerabatan keluarga hampir tidak ada. Di barat, yang dinamakan keluarga hanya ayah, ibu, dan anak-anak, sehingga bila anak - anak pergi meninggalkan rumah, terasa sekali adanya kekosongan. Apalagi bila suami telah meninggal dunia, atau terpaksa hidup sendiri karena perceraian. Di Indonesia yang nilai kekerabatan keluarga masih menyertakan kakek, nenek, paman, bibi, saudara sepupu, kemenakan, dan saudara dekat lainnya. Akan tetapi untuk ke depan, kemungkinan norma kekerabatan kita juga dapat berubah, dan mengikuti pola kekerabatan yang ada di negara barat. Walaupun demikian, sekarang pun bukan berarti ENS tidak dirasakan kaum ibu di Indonesia, karena hubungan emosi ibu dan anak bersifat universal (Dewi, 2007).
Keibuan selalu berkaitan dengan relasi ibu dengan anaknya sebagai kesatuan fisiologis, psikis dan sosial. Relasi tersebut dimulai sejak anak berada dalam kandungan ibunya dan dilanjutkan dengan proses-proses fisiologis berupa kelahiran, periode menyusui dan memelihara anak. Ketika anak mulai meninggalkan rumah, seorang ibu harus menghadapi masalah penyesuaian kehidupan yang biasa disebut dengan periode sarang kosong. Sindrom sarang kosong ini sangat terasa bagi ibu rumah tangga karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan di rumah dan selalu berinteraksi dengan anak-anak (Rahmah, 2006).
c.    Tanda dan gejala
Tanda dan gejala sindrom sarang kosong menurut Dewi (2007) yaitu:
1).    Ibu meneteskan airmata atau menangis tersedu-sedu, bila teringat anaknya.
2).    Sering termenung menatap tempat tidur yang kosong.
3).    Menaruh pakaian anaknya di bawah bantalnya
4).    Diam-diam menciumi pakaian putra atau putrinya.
Keadaan ini dianggap normal, bila berlangsung hanya satu minggu setelah kepergian anaknya, tetapi bila keadaan ini berlangsung lama maka disebut sindrom sarang kosong.
Wanita yang mengalami sindrom sarang kosong akan mengalami krisis kepercayaan diri, mereka merasakan tidak banyak berharga dalam kehidupan masyarakat (Thang, 2006).  

d.   Faktor Resiko
Saltz (2008) menjelaskan bahwa sindrom sarang kosong dibuktikan dengan adanya kesulitan dalam menghadapi perubahan, yang mana dapat dilihat dari gejala yang muncul, yaitu sedih yang berlebihan, takut akan peran anda dalam kehidupan sekarang, adanya aturan utama dalam kegiatan setiap hari, bagaimana anda memandang diri sendiri, dan bagaimana fungsi perkawinan anda.   
Menurut Rahmah (2006) ada beberapa faktor yang mempengaruhi sindrom sarang kosong pada ibu, yaitu keberadaan dan hubungan dengan pasangan, hubungan dengan anak sebelum, saat dan sesudah terpisah serta keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri.
Adapun faktor resiko yang menyebabkan seseorang terkena sindrom sarang kosong, sebagai berikut (Saltz, 2008):
1).      Orang yang sulit menerima perubahan dan perpisahan
2).      Orang tua yang selalu memberikan waktunya secara penuh
3).      Orang yang mengalami menopause, pensiun dan penuaan
4).      Orang tua yang merasa tidak siap ditinggal pergi anaknya dari rumah
e.    Cara Mengantisipasi
Sindrom sarang kosong tidak akan terjadi jika anda memikirkan bagaimana menghadapi perubahan agar menjadi lebih mudah. Beberapa hal dibawah ini dapat anda lakukan dengan mudah, lebih menggembirakan dan menyenangkan, Saltz (2008):
1).      Membuat perencanaan awal
Mulailah menyusun rencana sedini mungkin dan tanyakan pada anak anda tentang rencana mereka dimasa depan.
2).      Mengerti akan pasangan kita
Lihatlah secara positif, bahwa waktu yang ada adalah milik anda dan suami untuk menumbuhkan kembali sikap romantis, ciptakan privasi dalam rumah, berjalan-jalan dan cari tahu kembali mengenai hal-hal lain.
3).      Buatlah daftar tentang mimpi dan cita-cita anda
Membuat daftar dari pemikiran kita tanpa harus tercapai dan melibatkan anak-anak. Seperti membuat puisi, belajar piano, menemukan sebuah pekerjaan baru atau melanjutkan sekolah karena belajar tidak mengenal usia.
4).      Menghindari perubahan yang terlalu besar
Jangan membuat perubahan yang terlalu besar, berilah waktu pada diri anda dan jangan melakukan sesuatu secara tiba-tiba.
5).      Berbagi dengan orang lain yang mengalami hal sama
Satu masalah yang timbul pada ENS adalah bagaimana mendapakan simpati, karena itu terbukalah kepada orang lain.
6).      Persiapkan anak anda
Persiapkanlah suatu hal yang terbaik bagi anda dan anak anda.
Apabila sindrom sarang kosong terjadi berlarut-larut dan tidak diantisipasi, maka seorang ibu akan menjadi sangat sensitif dan kerap berprasangka negatif. Seorang ibu merasa anaknya tidak lagi menempatkannya di urutan pertama dalam hidup setelah anaknya menikah. Ia merasa anaknya lebih memilih pasangannya daripada dirinya (Indriasari & Ivvaty, 2007).  
f.      Cara Mengatasi
Terdapat beberapa cara yang baik untuk mengatasi akibat ENS yang merugikan, yaitu meyakinkan pada diri sendiri bahwa kepergian anak adalah untuk kebaikan masa depannya. Tidak perlu merasa tidak berguna, karena semua bimbingan seorang ibu yang disertai kasih sayang yang mendalam, akan tertanam dalam nurani anak. Menghindari mengungkap sesuatu yang merisaukan perasaan anak. Berbagi rasa dengan teman atau saudara yang mengalami hal yang sama.  Mencurahkan perhatian pada hal yang menyenangkan atau melakukan pekerjaan sesuai hobi (Dewi, 2007).  
Menurut Rahmah (2006), penyesuaian awal yang harus dilakukan adalah penyesuaian terhadap keluarga yang dalam hal ini berarti pasangan hidup atau suami, dan secara otomatis menyebabkan harus dilakukannya perubahan peran. Perubahan peran seorang ibu akan menjadi awal penyesuaian diri menghadapi sindrom sarang kosong. Seorang ibu yang masih memiliki pasangan, cenderung lebih mudah menyesuaikan diri dibandingkan dengan ibu yang sudah tidak memiliki pasangan. Keberadaan pasangan sangat berpengaruh dalam mencapai keseimbangan diri seorang ibu setelah kepergian anak, karena orientasi peran dalam hidup kembali berpusatkan pada pasangan. Selain itu, keberadaan pasangan juga mampu mereduksi kesedihan dan rasa sepi pada diri seorang ibu. Untuk ibu yang sudah tidak didampingi pasangan, cenderung mengorientasikan diri pada kegiatan diluar rumah. Dengan melibatkan diri pada kesibukan dan keramaian di luar rumah, seorang ibu mendapatkan kompensasi atas rasa kehilangannya terhadap anak-anak. Kemudian bersamaan dengan berjalannya waktu sebagai pemicu munculnya kebiasaan, seorang ibu akan keluar dari sindrom sarang kosong. 
 
Lebih lanjut Rahmah mengungkapkan bahwa penyesuaian diri seorang ibu yang mengalami sindrom sarang kosong dipengaruhi beberapa faktor, yaitu: kemampuan menjalin hubungan baik dengan orang lain, perkembangan dan kematangan intelektual dan emosi, agama, usia, psikologis, kebahagiaan personal, keyakinan dan percaya diri, serta produktivitas. Bersamaan dengan itu, diidentifikasi pula dinamika penyesuaian diri ibu yang diawali dengan berubah drastisnya keadaan didalam rumah yang memunculkan kesepian dan kesedihan berlarut-larut sehingga dirasakan sebagai tekanan hidup. Lansia perlu mengalihkan diri pada kegiatan-kegiatan tertentu termasuk pendekatan kepada Tuhan, guna membantu meringankan beban dan menerima keadaan dirinya apa adanya sehingga lansia bisa menikmati kehidupan barunya tanpa kehadiran anak-anak

PENYESUAIAN DIRI IBU MENGHADAPI SINDROM SARANG KOSONG

Keibuan selalu berkaitan dengan relasi ibu dengan anaknya sebagai kesatuan fisiologis, psikis dan sosial. Relasi tersebut dimulai sejak anak berada dalam kandungan ibunya dan dilanjutkan dengan proses-proses fisiologis berupa kelahiran, periode menyusui dan memelihara anak. Ketika anak mulai meninggalkan rumah, seorang ibu hams menghadapi masalah penyesuaian kehidupan yang biasa disebut dengan periode sarang kosong. Sindrom sarang kosong ini sangat terasa bagi ibu rumah tangga karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan di rumah dan selalu berinteraksi dengan anak-anak. Penyesuaian awal yang hams dilakukan adalah penyesuaian terhadap keluarga yang dalam hal ini berarti pasangan hidup atau suami, dan secara otomatis menyebabkan hams dilakukannya perubahan peran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyesuaian diri ibu menghadapi sindrom sarang kosong, faktor apa saja yang mempengaruhinya dan bagaimana dinamikanya.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus deskriptif eksploratoris yang bertujuan untuk memaparkan kenyataan yang sesungguhnya tentang penyesuaian diri ibu menghadapi sindrom sarang kosong sehingga menghasilkan suatu gambaran utuh, menggali lebih dalam aspek¬aspeknya dan menggambarkan dinamikanya. Data diperoleh dengan menggunakan metode wawancara, observasi dan angket. Data tersebut kemudian dianalisa, baik setiap kasus maupun lintas kasus, dengan menggunakan metode explanation building untuk memperoleh gambaran dan penjelasan secara menyeluruh.

Penelitian ini memaparkan bahwa perubahan peran seorang ibu akan menjadi awal penyesuaian diri menghadapi sindrom sarang kosong. Seorang ibu yang masih memiliki pasangan, cenderung lebih mudah menyesuaikan diri dibandingkan dengan ibu yang sudah tidak memiliki pasangan. Keberadaan pasangan sangat berpengaruh dalam mencapai keseimbangan diri seorang ibu setelah kepergian anak, karena orientasi peran dalam hidup kembali berpusatkan pada pasangan. Selain itu, keberadaan pasangan juga mampu mereduksi kesedihan dan rasa sepi pada diri seorang ibu. Untuk ibu yang sudah tidak didampingi pasangan, cenderung mengorientasikan diri pada kegiatan diluar mmah. Dengan melibatkan diri pada kesibukan dan keramaian di luar mmah, seorang ibu mendapatkan kompensasi atas rasa kehilangannya terhadap anak-anak. Kemudian bersamaan dengan berjalannya waktu sebagai pemicu munculnya kebiasaan, seorang ibu akan keluar dari sindrom sarang kosong.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa penyesuaian diri seorang ibu yang mengalami sindrom sarang kosong mempunyai beberapa faktor, yaitu : kemampuan menjalin hubungan baik dengan orang lain, perkembangan dan kematangan intelektual dan emosi, agama, usia, psikologis, kebahagiaan personal,

keyakinan dan percaya diri, serta produktivitas. Bersamaan dengan itu, diidentifikasi pula dinamika penyesuaian diri ibu yang diawali dengan berubah drastisnya keadaan didalam rumah yang memunculkan kesepian dan kesedihan berlarut-larut sehingga dirasakan sebagai tekanan hidup. Karena itu, perlu mengalihkan diri pada kegiatan-kegiatan tertentu juga pendekatan kepada Tuhan untuk membantu meringankan beban dan menerima keadaan dirinya apa adanya. Sehingga seorang ibu bisa menikmati kehidupan barunya tanpa kehadiran anak¬anak. Berdasarkan hasil penelitian ini juga diperoleh beberapa faktor lain yang mempengaruhi sindrom sarang kosong pada ibu, yaitu : keberadaan dan hubungan dengan pasangan; hubungan dengan anak sebelum, saat dan sesudah terpisah; serta keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri.

Mengatasi sindrom sarang kosong

Lulusan sekolah tinggi Anda ke perguruan tinggi untuk memulai kehidupan yang baru merdeka.

Tapi mereka bukan satu-satunya membuat transisi: orang tua juga menghadapi penyesuaian emosional dan gaya hidup. Dengan saran mengenai sindrom sarang kosong dan transisi perguruan tinggi, NewYork-Presbyterian Hospital dokter menawarkan tips pakar pada topik termasuk, mendekorasi kamar anak Anda, kartu kredit, tetap berhubungan dan banyak lagi.
"Ini normal mengalami beberapa rasa sedih atau kehilangan ketika anak Anda pergi untuk kuliah," kata Dr Amy Silverman, psikiater anak dan remaja di NewYork-Presbyterian/Westchester Divisi dan asisten profesor psikiatri di Weill Cornell Medical College. "Saya sarankan menghabiskan waktu dengan pasangan Anda atau teman-teman, terutama mereka yang telah melalui pengalaman yang sama Bicarakan perasaan Anda,. Tetapi juga tentang kepentingan dan tujuan."
"Untuk-terikat kuliah anak Anda, tujuannya adalah transisi mereka ke dalam kemerdekaan yang lebih besar dan tanggung jawab. Jika Anda seorang yang disebut helikopter tua yang micromanages kehidupan anak anda, sekarang waktu untuk tanah," kata Dr Karen Soren, direktur remaja pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Morgan Stanley Anak di NewYork-Presbyterian dan profesor klinis asosiasi pediatri dan kesehatan masyarakat di Columbia University College of Dokter dan Ahli Bedah. "Bahkan sebelum mereka pergi, berikan anak Anda lebih banyak kebebasan, sementara pengawasan langsung Anda masih mungkin."
Drs. Silverman dan Soren menawarkan tips lebih lanjut tentang membuat transisi kuliah lebih mudah, termasuk: 

  • Tetap berhubungan, tetapi tidak berlebihan. Ketika anak Anda pergi ke sekolah, mungkin kesempatan untuk mengembangkan jenis hubungan yang berbeda. Mengakui bahwa kemerdekaan baru mereka merupakan langkah penting.
  • Minggu malam panggilan telepon tidak lagi norma. Panggilan telepon seluler intermiten dan e-mail sekarang umum.
  • Anak-anak menghargai ruang mereka sendiri ketika mereka pulang untuk mengunjungi. Orangtua sering mendekorasi ulang dan merebut kembali beberapa ruang, tetapi mintalah anak Anda terlebih dahulu. Lihat jika Anda dapat memberi mereka ruang lain untuk memanggil mereka sendiri.
  • Mendidik diri sendiri pada kebijakan sekolah terhadap minum dan aturan lainnya. Berbicara dengan anak Anda tentang tanggung jawab mereka dan keselamatan mereka. Masalah seperti pesta minuman keras dimulai sedini minggu-minggu pertama sekolah.
  • Bicaralah dengan anak Anda tentang uang. Datanglah ke pemahaman tentang siapa yang membayar untuk biaya kuliah, buku, pakaian, perjalanan, telepon, dll Diskusikan apakah mereka akan mengambil pekerjaan paruh-waktu atau menggunakan kartu kredit (perusahaan kartu kredit agresif pasar untuk mahasiswa).
  • Membaca semua bahwa sekolah mengirimkan Anda. Tetap terinformasi. Dan, jika ada hari tua mengunjungi, pergi.
  • Jika orang tua atau anak memiliki kesulitan menyesuaikan berkepanjangan, mereka harus mencari evaluasi profesional.